Nah, hari ini entah kenapa saya jadi teringat akan
‘tamu setiap bulan’ ini. (Mungkin karena… ). Oke, langsung saja ke topik. Yang saya tahu tidur dan menstruasi/haid (serta remaja putri) itu ada hubungannya.
Tapi, kali ini saya tidak akan bercerita soal gangguan tidur saat masa haid, melainkan gangguan masa haid oleh karena tidur.
Setelah meminta petunjuk kepada Mbah Google untuk memastikan apa yang saya percayai tahu selama ini, saya semakin termotivasi untuk tidak tidur. Hehehe.
Mungkin yang lainnya juga sudah pada tahu sih bahwa tidur bisa mempengaruhi volume darah menstruasi. Jika seorang remaja putri (wanita) mengalami penurunan volume darah ketika haid - jadi bukan jumlah harinya ya, itu berarti bisa saja dia kurang tidur. Yes!
"Agak curhat lagi ya, Bo’! Saya senang sekali jika hanya ’sedikit’. Hehehe. Jadi ngga’ repot gitu."
Mungkin bisa saja jadi ngga’ repot gitu. Tapi, dengan mens yang seperti itu tentu saja menimbulkan tanda tanya. Bukan tidak normal. Yang tidak normal adalah jika siklus harinya tidak memenuhi standar yakni 3-7 hari, melainkan ini adalah suatu ‘warning’ juga.
*Maaf, buat yang remaja-remaja putri yang tidurnya tidak normal (termasuk saya).
Walaupun akan kembali ‘normal’ lagi jika hidup telah ‘normal’ kembali, yaitu jam tidur yang kembali sedia kala, tidak kelelahan, dan lain-lain, akan tetapi jika tidak dimulai dari sekarang akan sulit untuk mengubahnya. Sehingga ‘bagaimana’ seharusnya seorang perempuan mengalami haid harus tidak dirasakan dan ini bisa menambah beban mental.
Sama seperti kurang tidur yang menyebabkan depresi dan akhirnya volume darah mens pun berkurang secara mendadak, begitu juga sebaliknya volume darah mens berkurang bisa membuat Anda (dan saya) bertanya-tanya dan akhirnya depresi lagi. (Analisis apa sih ini!)
Yang pasti saya bukanlah guru seksologi yang mengerti soal beginian. Tanya sama dr. Andi Sugiarto, SpRM aja kali ye…
Bagaimanapun ada solusi yang lebih tepat untuk menghadapi menstruasi daripada harus tidak tidur agar ’sedikit’!